Did You Know, Knowledge

Sejarah Olimpiade

Pesta olahraga dunia (Olimpiade) dalam hitungan jam akan segera berlangsung di London, Inggris. Namun sudah tahukah anda sejarah dari Olimpiade tersebut..Berikut Kami share artikel tentang sejarah olimpiade dari sumber Wikipedia.

Pertandingan Olimpiade (bahasa Perancis: les Jeux olympiques, JO)[1] adalah ajang olahraga internasional empat tahunan yang mempertandingkan cabang-cabang olahraga musim panas dan musim dingin serta diikuti oleh ribuan atlet yang berkompetisi dalam berbagai pertandingan olahraga. Olimpiade merupakan kompetisi olahraga terbesar dan terkemuka di dunia, dengan lebih dari 200 negara berpartisipasi.

Awalnya, Olimpiade hanya berlangsung di Yunani kuno sampai akhirnya pada tahun 393 M Olimpiade kuno ini dihentikan oleh Kaisar Romawi, Theodosius. Olimpiade kemudian dihidupkan kembali oleh seorang bangsawan Perancis bernama Pierre Frèdy Baron de Coubertin pada tahun 1896. Dalam kongres pada tahun 1894 yang diselenggarakan di Paris, didirikanlah Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan ibu kota Yunani, Athena dipilih sebagai tuan rumah Olimpiade modern pertama tahun 1896. Selanjutnya, sejak tahun 1896 sampai sekarang, setiap empat tahun sekali Olimpiade Musim Panas senantiasa diadakan kecuali tahun-tahun pada masa Perang Dunia II. Edisi khusus untuk olahraga musim dingin; Olimpiade Musim Dingin, mulai diadakan pada tahun 1924. Awalnya Olimpiade Musim Dingin diadakan pada tahun yang sama dengan Olimpiade Musim Panas, namun sejak tahun 1994 Olimpiade Musim Dingin diadakan setiap empat tahun sekali, dengan selang waktu dua tahun dari penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas.

Evolusi yang dilakukan oleh IOC selama abad ke-20 dan 21 telah menyebabkan beberapa perubahan pada penyelenggaraan Olimpiade. Beberapa penyesuaian dilakukan, termasuk penciptaan Olimpiade Musim Dingin untuk olahraga es dan salju, Paralimpiade untuk atlet dengan kekurangan fisik dan Olimpiade Remaja untuk para atlet remaja. Dalam perkembangannya, Olimpiade telah menghadapi berbagai tantangan, seperti pemboikotan, penggunaan obat-obatan, penyuapan dan terorisme. Olimpiade juga merupakan kesempatan besar bagi kota dan negara tuan rumah untuk menampilkan diri kepada dunia.

Di Indonesia, Olimpiade yang sering dikenal dan secara rutin diikuti adalah Olimpiade Musim Panas. Indonesia sendiri pertama kali berpartisipasi pada Olimpiade Helsinki 1952 di Finlandia, dan tak pernah absen berpartisipasi pada tahun-tahun berikutnya, kecuali pada tahun 1964 dan 1980.[2].

Olimpiade kuno

Sejak ribuan tahun lalu bangsa Yunani sudah mengenal olahraga dalam arti yang paling sederhana. Mereka melakukannya untuk kepentingan pasukan perang atau kemiliteran. Dengan berolahraga diharapkan para prajurit akan tangkas dan sigap dalam bertempur. Olimpiade yang paling awal konon sudah diselenggarakan bangsa Yunani kuno pada tahun 776 Sebelum Masehi. Kegiatan itu diikuti seluruh bangsa Yunani dan dilangsungkan untuk menghormati dewa tertinggi mereka, Zeus. Zeus bermukim di Gunung Olimpus yang kemudian dipakai sebagai nama Olimpiade hingga sekarang. Olimpiade kuno juga diselenggarakan setiap empat tahun, para olahragawan terbaik dari seluruh Yunani berdatangan ke arena di sekitar Gunung Olimpus. Mereka bertanding secara perorangan, bukan atas nama tim. Para atlet yang akan bertanding terlebih dulu berlatih keras selama sepuluh bulan di daerah masing-masing. Dulu, di Yunani sering terjadi perang saudara, namun ketika pesta olahraga berlangsung, pihak yang bertikai melakukan gencatan senjata. Siapa yang melanggar konsensus akan dikenakan denda. Bangsa Sparta pernah diharuskan membayar denda karena melanggar gencatan senjata selama Perang Peloponnesus. Menjelang pertandingan, panitia pelaksana menyembelih babi kurban.[3][4]

Saat ini di wilayah Olympia, Yunani terdapat sekelompok bangunan kecil dan gelanggang di alam terbuka. Sisa-sisa puing gelanggang latihan itu merupakan peninggalan arkeologis yang dilestarikan pemerintah Yunani. Pada pesta Olimpiade kerap terjadi perjanjian perdamaian atau persekutuan antar bangsa. Juga timbul berbagai kegiatan transaksi. Barang-barang yang dijajakan antara lain anggur, makanan, jimat, dan benda-benda ibadah. Olimpiade kuno mempertandingkan cabang-cabang atletik seperti lari, loncat, dan lempar. Ada juga pacuan kuda dan pacuan kereta. Karena aturannya belum baku, para penonton sering terkena lemparan batu atau ditabrak kereta kuda para peserta.[5][6][7]

Di Olympia juga masih dijumpai batu-batu yang merupakan pijakan olahraga lari. Pijakan batu itu disusun sedemikian rupa agar para pelari bisa mendapat ruang gerak ke kiri dan ke kanan. Pada saat start para pelari harus menempatkan telapak kaki pada batu-batu pijakan itu. Ada pula panel-panel tentang lomba lari khusus membawa perisai. Lomba ini banyak disukai penonton karena dianggap lucu.[8] Pembukaan Olimpiade selalu diwarnai lomba kereta dengan empat kuda. Sekitar 40 kereta dijajarkan dalam kandang di gerbang keluar. Jarak yang ditempuh hampir 14 km, yakni 12 kali pulang pergi antara dua tiang batu yang ditancapkan di tanah. Berbeda dengan Olimpiade modern, dulu mahkota kemenangan tidak diberikan kepada sais atau joki, melainkan kepada pemilik kereta dan kuda yang umumnya orang-orang kaya. Orang kaya yang haus kehormatan biasanya mengirim paling sedikit tujuh kereta kuda untuk mengikuti perlombaan.[9]

Berbagai pertandingan dalam Olimpiade kuno boleh dikatakan serba keras. Para pelari berpacu secepat-cepatnya tanpa memakai alas kaki. Para penunggang kuda berlomba habis-habisan tanpa pelana atau sanggurdi. Para peloncat membawa pemberat yang diayun-ayunkan untuk menambah dorongan maju. Olahraga yang terkeras adalah pankration, yakni perpaduan antara gulat dan tinju gaya tradisional.[10] Para atlet boleh menyepak atau mencekik lawan, yang tidak diperbolehkan adalah memijit mata, menggigit, dan mematahkan jari. Fairplay benar-benar diperhatikan para atlet. Beberaba artefak purba memperlihatkan adegan tinju antara dua atlet. Pemenang adu tinju adalah pihak yang dapat memukul kepala lawan. Pihak yang kalah harus mengacungkan jari tanda mengaku kalah.[11]

Olimpiade kuno hanya boleh ditonton dan diikuti oleh para pria. Sebab para atlet harus bertanding dengan tubuh telanjang, kecuali untuk kesempatan khusus, seperti lomba kereta kuda. Mereka berbusana beraneka ragam untuk menunjukkan status sosial si pemilik kereta dan kuda. Bagi orang Yunani telanjang merupakan cara paling sesuai untuk berolahraga. Mereka bangga kalau memiliki tubuh yang atletis.[12] Pemenang pertandingan mendapatkan mahkota dedaunan, seperti daun zaitun liar sebagai pengganti medali. Kadang-kadang sang juara diarak masuk kota melalui sebuah lubang yang dibuat khusus pada tembok kota. Mereka dielu-elukan di jalan kota dan disambut pembacaan puisi.[13] Penghargaan lain kepada olahragawan berprestasi berupa pembebasan dari pajak dan mendapat makanan gratis. Beberapa kota juga memberikan bonus uang dalam jumlah besar. Bahkan di kota kediaman pemenang didirikan patung mereka. Banyak patung batu dan perunggu masih tersisa sampai kini dan itulah hadiah paling abadi milik sang juara. Salah satu bagian cabang atletik yang masih tetap dikenal hingga kini adalah maraton, yakni perlombaan lari sejauh kira-kira 42 km.[14]

Olimpiade mencapai puncaknya di abad ke-6 dan ke-5 SM, tetapi kemudian secara bertahap mengalami penurunan seiring jatuhnya Yunani ke tangan Romawi. Tidak ada konsensus yang menyatakan secara resmi mengenai berakhirnya Olimpiade, namun teori yang paling umum dipegang saat ini adalah pada tahun 393 M, saat Kaisar Romawi, Theodosius menyatakan bahwa semua budaya praktek-praktek kuno Yunani harus dihilangkan.[15] Kemudian, pada tahun 426 M, Theodosius II memerintahkan penghancuran semua kuil Yunani. Setelah itu, Olimpiade tidak diadakan lagi sampai akhir abad ke-19.[16]

Olimpiade modern

Pelopor

Ajang olahraga pertama yang pelaksanaannya serupa dengan Olimpiade kuno adalah L’Olympiade de la République, sebuah festival olahraga nasional yang diadakan pada tahun 1796 sampai 1798 selama masa Revolusi Perancis.[17] Dalam pelaksanaannya, ajang ini mengadopsi beberapa peraturan-peraturan yang berlaku dalam Olimpiade kuno. Ajang ini juga menandai diterapkannya sistem metrik ke dalam cabang-cabang olahraga.[17]

Pada tahun 1850 sebuah Kelas Olimpiade didirikan oleh Dr. William Penny Brookes di Much Wenlock, Shropshire, Inggris. Selanjutnya, pada tahun 1859, Dr. Brookes mengganti nama Kelas Olimpiade menjadi Olimpiade Wenlock. Ajang tersebut tetap diadakan hingga hari ini.[18] Tanggal 15 November 1860, Dr. Brookes membentuk Perkumpulan Olimpiade Wenlock.[19]:28.

Antara tahun 1862 dan 1867, di Liverpool diadakan ajang Grand Olympic Festival. Ajang ini dicetuskan oleh John Hulley dan Charles Melly dan merupakan ajang olahraga pertama yang bersifat internasional, meskipun atlet-atlet yang berpartisipasi kebanyakan merupakan “atlet amatir”.[20][21] Penyelenggaraan Olimpiade modern pertama di Athena pada tahun 1896 hampir identik dengan Olimpiade Liverpool.[22] Pada tahun 1865, Hulley, Dr. Brookes dan EG Ravenstein mendirikan Asosiasi Olimpiade Nasional di Liverpool, yang merupakan cikal bakal terbentuknya Asosiasi Olimpiade Britania Raya. Selanjutnya, pada tahun 1866, sebuah ajang bernama Olimpiade Nasional Britania Raya diselenggarakan di London untuk pertama kalinya.[23]

Kebangkitan

Semangat bangsa Yunani untuk menghidupkan kembali Olimpiade dimulai seiring dengan berlangsungnya Perang Kemerdekaan antara Yunani dengan Kekaisaran Ottoman pada tahun 1821. Ide untuk membangkitkan Olimpiade pertama kali dicetuskan oleh seorang penyair dan editor majalah bernama Panagiotis Soutsos lewat puisinya yang berjudul “Dialogue of the Dead” yang diterbitkan pada tahun 1833.[19]:1 Evangelis Zappas, seorang bangsawan Yunani-Rumania adalah orang yang pertama kali menulis kepada Raja Otto, menawarkan untuk mendanai kebangkitan Olimpiade.[19]:14 Zappas mensponsori penyelenggaraan Olimpiade pada tahun 1859 yang diselenggarakan di pusat kota Athena. Atlet-atlet yang berpartisipasi dalam ajang tersebut berasal dari Yunani dan Kekaisaran Ottoman. Zappas juga mendanai perenovasian Stadion Panathinaiko kuno agar dapat dipakai sebagai tempat penyelenggaraan Olimpiade pada tahun-tahun berikutnya.[19]:14

Stadion Panathinaiko digunakan sebagai tempat penyelenggaraan Olimpiade tahun 1870 dan 1875.[19]:2, 13–23, 81 Sekitar Tiga puluh ribu penonton menghadiri Olimpiade pada tahun 1870 namun tidak ada catatan kehadiran resmi yang tersedia untuk penyelenggaraan Olimpiade tahun 1875.[19]:44 Pada tahun 1890, setelah menghadiri Olimpiade Wenlock, seorang sejarawan Perancis bernama Baron Pierre de Coubertin terinspirasi untuk mendirikan Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee/IOC).[24] Coubertin punya ide untuk menyelenggarakan suatu ajang Olimpiade internasional setiap empat tahun sekali berdasarkan ajang Olimpiade Yunani yang dibangkitkan oleh Brookes dan Zappas.[24] Dia mempresentasikan ide ini dalam kongres pertama IOC yang berlangsung pada tanggal 16-23 Juni 1984 di Universitas Sorbonne, Paris. Pada hari terakhir kongres, diputuskan bahwa penyelenggaraan Olimpiade internasional berada di bawah naungan IOC dan penyelenggaraan pertamanya akan dilangsungkan di Athena, Yunani pada tahun 1896.[25] Hasil kongres juga memutuskan bahwa Demetrius Vikelas dari Yunani terpilih sebagai presiden IOC pertama.[19]:100–105

Olimpiade 1896

Olimpiade pertama yang diadakan di bawah naungan IOC berlangsung di stadion Panathinaiko, Athena, pada tahun 1896. Olimpiade pertama ini diikuti oleh 14 negara dengan total 241 atlet yang berlaga dalam 43 pertandingan.[26] Seperti janjinya pada Pemerintah Yunani, Zappas dan sepupunya, Konstantinos Zappas turut membantu membiayai penyelenggaraan Olimpiade 1896.[19]:117[27][28] George Averoff, seorang pengusaha Yunani bersedia untuk mendanai perenovasian stadion dalam rangka persiapan Olimpiade.[19]:128 Pemerintah Yunani juga turut menyediakan dana, berharap dana tersebut dapat diperoleh kembali melalui penjualan tiket dan dari penjualan set perangko peringatan Olimpiade pertama.[19]:128

Sebagian besar atlet yang berpartisipasi dalam Olimpiade Athena 1896 berasal dari Yunani, Jerman, Perancis, dan Britania Raya. Negara-negara tersebut juga menguasai perolehan medali.[19]:128 Pada saat itu, wanita tidak boleh berpartisipasi. Penyelenggara menyebut kesertaan mereka tidak praktis, tidak menarik, dan tidak tepat. Sekitar 80.000 penonton hadir, termasuk Raja George I dari Yunani.[29]

Meskipun Yunani tidak berpengalaman dalam menyelenggarakan ajang olahraga internasional dan awalnya juga mempunyai masalah keuangan, namun akhirnya berhasil mempersiapkan segalanya tepat waktu. Jumlah atlet yang berpartisipasi juga terbilang kecil jika dibandingkan dengan ukuran saat ini, namun Olimpiade 1896 merupakan keikut sertaan internasional terbesar untuk ajang olahraga pada masanya. Olimpiade tersebut pun terbukti sukses bagi rakyat Yunani.[19]:128

Perubahan dan adaptasi

Setelah kesuksesan Olimpiade 1896, Olimpiade memasuki masa-masa stagnasi yang mengancam keberlangsungan ajang tersebut. Olimpiade Paris 1900 dan Olimpiade St. Louis 1904 adalah buktinya. Olimpiade Paris tidak memiliki stadion, namun ini adalah Olimpiade dimana pertama kalinya wanita diijinkan ikut serta dalam pertandingan. Olimpiade St. Louis tahun 1904 diikuti oleh 650 atlet, namun 580 di antaranya berasal dari Amerika Serikat. Hal-hal diatas menjadi dasar bagi IOC untuk melakukan perubahan pada Olimpiade.[30] Olimpiade di tata ulang setelah diadakannya Olimpiade Selingan/ Intercalated Games (disebut demikian karena Olimpiade ini adalah Olimpiade ketiga yang diadakan sebelum waktu penyelenggaraan Olimpiade ketiga) pada tahun 1906 di Athena. Olimpiade Selingan ini tidak diakui secara resmi oleh IOC dan tidak pernah diselenggarakan lagi sejak saat itu. Namun, Olimpiade selingan yang diselenggarakan di Stadion Panathinaiko, Athena ini telah menarik minat banyak peserta secara internasional dan menghasilkan kepentingan publik yang besar, menandai kenaikan popularitas dan ukuran dari Olimpiade itu sendiri.[31]

Olimpiade Musim Dingin

Olimpiade Musim Dingin (pertama kali diadakan di Chamonix, Perancis, pada tahun 1924) diciptakan untuk memperlombakan cabang-cabang olahraga musim dingin seperti seluncur es dan ski yang tidak bisa diperlombakan dalam Olimpiade Musim Panas. Seluncur es (tahun 1908 dan 1920) serta hoki (tahun 1920) pernah diperlombakan dalam ajang Olimpiade Musim Panas. IOC ingin memperluas daftar tersebut dengan ikut memperlombakan cabang-cabang olahraga untuk musim dingin lainnya. Pada kongres Olimpiade tahun 1921 di Lausanne, diputuskan untuk menyelenggarakan versi musim dingin dari Olimpiade. Acara bertajuk Pekan Olahraga Musim Dingin diadakan pada tahun 1924 di Chamonix, Perancis. Acara ini menjadi penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin pertama.[32]

Pada awalnya, IOC memutuskan untuk menyelenggarakan Olimpiade Musim Dingin pada tahun yang sama dengan penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas.[33] Tradisi ini bertahan sampai Olimpiade Musim Dingin 1992 di Albertville, Perancis. Setelah itu, sejak tahun 1994 Olimpiade Musim Dingin diadakan setiap dua tahun berselang setelah penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas.[32] Jumlah negara yang berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin juga lebih sedikit dibandingkan Olimpiade Musim Panas, karena negara-negara yang berada di ekuator tidak mengenal olahraga musim dingin dan juga tidak memiliki fasilitas untuk olahraga tersebut.[32]

Paralimpiade

Pada tahun 1948, Sir Ludwig Guttmann, yang bertekad untuk mempromosikan rehabilitasi prajurit yang cacat akibat Perang Dunia II menyelenggarakan pertandingan olahraga antar Rumah Sakit bertepatan dengan penyelenggaraan Olimpiade London 1948. Pertandingan tersebut dikenal sebagai Stoke Mandeville Games dan selanjutnya diselenggarakan setiap tahunnya selama dua belas tahun. Kemudian, dalam Olimpiade Roma 1960, Guttman membawa 400 atlet untuk berlaga dalam ajang Olimpiade Paralel, yang kemudian dikenal sebagai Paralimpiade pertama. Sejak itu, Paralimpiade telah diselenggarakan di setiap tahun penyelenggaraan Olimpiade. Dalam Olimpiade 1988, Seoul sebagai kota tuan rumah juga menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Paralimpiade.[34] Pada tahun 2001, Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Komite Paralimpiade Internasional (IPC) menandatangani perjanjian yang menjamin bahwa kota tuan rumah Olimpiade juga akan dikontrak untuk menjadi tuan rumah Paralimpiade.[35][36] Perjanjian ini mulai diberlakukan dalam penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas Beijing 2008 dan Olimpiade Musim Dingin Vancouver 2010. Ketua panitia Olimpiade Musim Panas London 2012, Lord Coe, menyatakan soal penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade 2012 di London: ” Kami ingin mengubah sikap publik terhadap kecacatan, merayakan kehebatan olahraga Paralimpik dan untuk menegaskan bahwa dua pertandingan ini adalah satu keseluruhan yang utuh”.[37]

Olimpiade Remaja

Pada tahun 2010, Olimpiade menambah daftar pertandingannya dengan menyertakan Olimpiade Remaja ke dalam penyelenggaraan Olimpiade. Olimpiade Remaja ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada atlet yang berusia antara 14 sampai 18 tahun untuk berkompetisi dalam Olimpiade. Olimpiade Remaja sebenarnya sudah dicetuskan oleh Presiden IOC, Jacques Rogge pada tahun 2001 dan baru disetujui dalam Kongres IOC ke 119 pada tahun 2007.[38][39] Olimpiade Remaja Musim Panas pertama diselenggarakan di Singapura pada tanggal 14-26 Agustus 2010, sedangkan Olimpiade Remaja Musim Dingin pertama diselenggarakan di Innsbruck, Austria pada bulan Januari 2012.[40] Waktu penyelenggaraan Olimpiade Remaja ini akan lebih singkat dibanding Olimpiade yang lainnya; versi musim panasnya berlangsung selama dua belas hari, sedangkan versi musim dinginnya berlangsung selama sembilan hari.[41] IOC mengijinkan 3.500 atlet dan 875 sponsor untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Remaja Musim Panas, serta 970 atlet dan 580 sponsor di Olimpiade Remaja Musim Dingin.[42][43] Cabang olahraga yang akan dilombakan akan disesuaikan dengan Olimpiade yang lainnya, namun akan ada variasi pada beberapa cabang olahraga, misalnya tim negara campuran dan tim gender campuran serta dikuranginya beberapa cabang dan peraturan pertandingan.[44]

Olimpiade masa kini

Dengan 241 atlet yang mewakili 14 negara pada tahun 1896, peserta Olimpiade terus tumbuh sepanjang tahun. Pada Olimpiade Beijing 2008, terhitung sebanyak 10.500 atlet dari 204 negara turut berkompetisi dalam Olimpiade.[45] Sedangkan ruang lingkup dan skala dari Olimpiade Musim Dingin lebih kecil. Dalam Olimpiade Musim Dingin 2006 di Turin, Italia, cuma sekitar 2.508 atlet dari 80 negara yang berpartisipasi.[46] Selama Olimpiade berlangsung, para atlet dan sponsor mereka tinggal di sebuah lokasi yang dinamakan “desa Olimpiade”. Desa ini dimaksudkan untuk menjadi sebuah lokasi mandiri bagi semua peserta Olimpiade. Lokasi tersebut juga dilengkapi dengan kafetaria, klinik kesehatan dan tempat ibadah.[47]

IOC memperbolehkan pembentukan Komite Olimpiade Nasional (NOC) yang mewakili negara-negara yang tidak berdaulat namun diakui secara internasional. Akibatnya, negara-negara koloni, teritori dan dependensi diizinkan untuk berlaga di Olimpiade. Negara-negara ini termasuk wilayah seperti Puerto Riko, Bermuda, Palestina dan Hong Kong, yang semuanya berkompetisi membawa nama negara mereka sendiri meskipun secara hukum merupakan bagian dari negara lain.[48] Pada tahun 2011, terdapat 206 NOC yang mewakili negara berdaulat dan daerah geografis lainnya. Kesemua 192 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa mempunyai Komite Olimpiade Nasional beserta 14 teritori lainnya. Sedangkan NOC lainnya yang belum diakui oleh IOC meliputi Catalan[49], Gibraltar Britania[50], Polinesia Perancis[51], Niue[52], Kosovo[53], Somaliland[54], Kaledonia Baru[55], Kurdistan Irak[56][57], Siprus Utara[58], Abkhazia [59], Kepulauan Faroe[60], Anguilla, Montserrat, dan Kepulauan Turk & Caicos[61]

Komite Olimpiade Internasional

Kantor pusat IOC di Lausanne, Swiss.

Gerakan Olimpiade terdiri dari sejumlah besar organisasi dan federasi olahraga nasional dan internasional, termasuk mitra media beserta atlet, sponsor, juri serta setiap orang dan lembaga yang setuju untuk mematuhi aturan dari Olympic Charter.[62] Sebagai organisasi payung dari Gerakan Olimpiade, Komite Olimpiade Internasional (IOC) bertanggung jawab untuk memilih kota tuan rumah, mengawasi perencanaan dan pelaksanaan Olimpiade, memperbaharui dan menyetujui cabang-cabang olahraga yang dipertandingkan dan bernegosiasi dengan sponsor serta pemberian hak siar pada media.[63] Komite Olimpiade Internasional terdiri dari tiga badan utama, yaitu:

  • Federasi Internasional (International Federations/IF): merupakan badan yang mengawasi olahraga di tingkat internasional. Sebagai contoh: Federasi Internasional Sepak Bola (FIFA) adalah IF untuk olahraga sepak bola, Federasi Bola Voli Internasional (FIVB) adalah IF untuk olahraga bola voli. Saat ini ada 35 IF dalam Gerakan Olimpiade, mewakili masing-masing cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Olimpiade.[64]
  • Komite Olimpiade Nasional (National Olympic Committees/NOC): merupakan organisasi yang mengatur Gerakan Olimpiade di masing-masing negara. Sebagai contoh: Komite Olimpiade Amerika Serikat (USOC) adalah NOC Amerika Serikat, Komite Olimpiade Indonesia adalah NOC Indonesia, dan sebagainya. Saat ini ada 206 NOC yang diakui oleh IOC.[45]
  • Komite Pengorganisasian Olimpiade (Organizing Committees for the Olympic Games/OCOG): merupakan komite sementara yang bertanggung jawab untuk perayaan saat Olimpiade berlangsung. OCOG dibubarkan setelah Olimpiade berakhir dan setelah laporan akhir dikirim ke IOC.[45]

Bahasa Perancis dan bahasa Inggris merupakan bahasa resmi dari Gerakan Olimpiade. Bahasa lain yang digunakan pada setiap Olimpiade adalah bahasa negara tuan rumah. Setiap acara proklamasi (pengumuman nama-nama negara peserta dalam upacara pembukaan) diucapkan dalam tiga atau dua bahasa, tergantung pada negara tuan rumah; apakah negara tersebut menggunakan bahasa Inggris atau Perancis.[65]

Kritik

IOC sering dikritik dan dicap sebagai “organisasi yang keras kepala” dengan para pemimpin yang penuh kontroversi. Avery Brundage dan Juan Antonio Samaranch adalah dua Presiden IOC yang paling kontroversial. Brundage adalah presiden yang menjabat lebih dari 20 tahun, dan selama masa jabatannya, Brundage melarang dan melindungi Olimpiade dari keterlibatan politik.[66] Dia juga dituduh rasisme karena melarang delegasi dari Afrika Selatan bergabung dalam IOC.[67] Sedangkan Di bawah pemerintahan Samaranch, IOC terpuruk kedalam kasus nepotisme dan korupsi.[68] Hubungan antara Samaranch dengan rezim Franco di Spanyol juga menjadi sumber kritik.[69]

Pada tahun 1998, terungkap bahwa beberapa anggota IOC telah menerima suap dari anggota komite Salt Lake City untuk menjadikan kota tersebut sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2002. Atas peristiwa ini, empat orang anggota IOC mengundurkan diri dan enam lainnya dipecat. Skandal ini telah memicu dilakukannya reformasi lebih lanjut mengenai pemilihan kota-kota yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade untuk menghindari terjadinya kasus serupa di masa mendatang.[70]

Sebuah film dokumenter BBC berjudul Panorama: Buying the Games ditayangkan pada bulan Agustus 2004. Film ini menyelidiki tentang adanya dugaan suap dalam prosesi pemilihan London sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2012.[71] Disebutkan bahwa anggota Komite Olimpiade Britania Raya kemungkinan besar menyuap IOC setelah London kalah tipis dari Paris dalam pemilihan kota tuan rumah untuk penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas 2012.[72] Walikota Paris, Bertrand Delanoë menuduh Perdana Menteri Inggris, Tony Blair dan anggota Komite Olimpiade London (yang diketuai oleh mantan juara Olimpiade Sebastian Coe) telah melakukan kecurangan dalam pemilihan kota tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2012, namun tuduhan itu tidak pernah benar-benar diselidiki.[73] Pemilihan Turin, Italia sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2006 juga penuh kontroversi. Seorang anggota IOC terkemuka bernama Marc Hodler menduga telah terjadi kasus suap oleh anggota panitia Turin terhadap anggota IOC. Tuduhan ini menyebabkan penyelidikan luas dan dari hasil penyelidikan, terbukti bahwa sebagian besar anggota IOC menolak pencalonan Sion, Swiss sebagai kota tuan rumah supaya Turin bisa mendapatkan status tersebut.[74]

Komersialisasi

IOC awalnya menolak pendanaan Olimpiade dari perusahaan sponsor. Namun, setelah presiden Avery Brundage pensiun pada tahun 1972, IOC mulai mengeksplorasi potensi media televisi dan pasar iklan yang akan menguntungkan mereka.[75] Di bawah kepemimpinan Juan Antonio Samaranch, Olimpiade mulai membuka diri terhadap sponsor-sponsor internasional yang ingin mendanai Olimpiade dan menciptakan produk-produk dagang dengan logo Olimpiade.[76]

Anggaran

Pada awal dan pertengahan abad ke-20, IOC dibiayai dengan anggaran yang kecil.[76][77] Avery Brundage, presiden IOC periode 1952-1972 menolak mengkomersialisasikan IOC.[75] Brundage menganggap bahwa komersialisasi di tubuh IOC akan berdampak terhadap pengambilan keputusan dalam organisasi tersebut.[75] Brundage melarang perusahaan-perusahaan yang ingin mendanai Olimpiade dan menolak penggunaan logo Olimpiade untuk tujuan komersil.[75] Ketika Brundage pensiun tahun 1972, IOC hanya memiliki aset sebesar $2 juta. Delapan tahun kemudian, pundi-pundi IOC telah membengkak menjadi $45 juta.[75] Hal ini terutama sekali disebabkan oleh pergeseran ideologi IOC ke arah perluasan pendanaan Olimpiade melalui penarikan sponsor dan penjualan hak siar ke stasiun-stasiun televisi.[75] Saat Juan Antonio Samaranch terpilih presiden IOC pada tahun 1980, dia berkeinginan untuk menjadikan IOC sebagai organisasi yang mandiri secara finansial.[77]

Juan Antonio Samaranch.

Olimpiade Los Angeles 1984 merupakan Olimpiade yang paling menguntungkan dalam sejarah penyelenggaraan Olimpiade. Panitia Olimpiade Los Angeles yang dipimpin oleh Peter Ueberroth mampu menghasilkan surplus sebesar $ 225 juta, jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya pada waktu itu.[78] Surplus sebesar itu sukses diraup oleh panitia berkat menjual hak sponsor hanya kepada perusahaan-perusahaan terpilih.[78] IOC berusaha mengontrol hak-hak sponsor tersebut. Samaranch kemudian mendirikan The Olympic Program (TOP) pada tahun 1985 untuk menciptakan sebuah merek dagang Olimpiade.[76] Keanggotaan di TOP sangat eksklusif dan mahal. Biaya untuk masuk saja sebesar $50 juta untuk keanggotaan selama 4 tahun.[77] Perusahaan-perusahaan yang menjadi anggota TOP menerima hak eksklusif global untuk mengiklankan produk mereka dalam penyelenggaraan Olimpiade serta bebas menggunakan logo Olimpiade dalam publikasi dan iklan produk mereka.[79]

Pengaruh televisi

Sebuah kartun dari Olimpiade Berlin 1936 yang menggambarkan suasana Olimpiade pada tahun 2000, dimana penonton digantikan oleh radio dan televisi.

Olimpiade Berlin 1936 adalah Olimpiade pertama yang penyelenggaraannya disiarkan melalui televisi, meskipun hanya untuk penonton lokal.[80] Baru pada Olimpiade Musim Dingin 1956 di Cortina d’Ampezzo, Italia, acara Olimpiade disiarkan oleh televisi secara Internasional,[81] dan pada Olimpiade Musim Dingin berikutnya, untuk pertama kalinya hak siar Olimpiade dijual ke saluran televisi CBS, yang membayar sebesar $394.000 untuk hak siar di Amerika Serikat,[82] serta Uni Penyiaran Eropa (EBU) yang membayar sebesar $660.000 untuk hak siar di seluruh Eropa.[76] Pada dekade berikutnya, Olimpiade memanfaatkan Perang Dingin untuk mengeruk keuntungan. Negara adidaya saling berebut supremasi politik, dan IOC ingin mengambil keuntungan melalui media penyiaran.[82] Penjualan hak siar memungkinkan IOC untuk meningkatkan eksposur Olimpiade, sehingga menghasilkan keuntungan dan jumlah pemirsa yang lebih banyak, yang pada gilirannya akan menciptakan daya tarik bagi para pengiklan di televisi. Siklus ini memungkinkan IOC untuk menaikkan biaya penjualan hak siar Olimpiade.[82] Sebagai contoh, CBS merogoh $375 juta untuk membeli hak siar Olimpiade Musim Dingin 1998 di Nagano,[83] sedangkan NBC menghabiskan $3,5 miliar untuk mendapatkan hak siar seluruh pertandingan Olimpiade dari tahun 2000 sampai tahun 2012.[76]

Jumlah pemirsa yang menonton Olimpiade meningkat secara eksponensial dari tahun 1960 sampai akhir abad ini. Hal ini disebabkan oleh penggunaan satelit untuk menyiarkan siaran langsung di seluruh dunia pada tahun 1964 dan pengenalan televisi berwarna pada tahun 1968.[84] Perkiraan penonton global dalam Olimpiade Mexico City 1968 adalah 600 juta, sedangkan dalam Olimpiade Los Angeles 1984, jumlah penonton meningkat menjadi 900 juta. Jumlah ini terus membengkak menjadi 3,5 miliar pada Olimpiade Barcelona 1992.[85] Namun, pada Olimpiade Sydney 2000, NBC mencatatkan jumlah pemirsa terendah untuk setiap ajang Olimpiade sejak tahun 1968.[86] Hal ini antara lain disebabkan oleh dua faktor: meningkatnya persaingan dari saluran televisi kabel dan perkembangan internet, yang mampu menampilkan hasil dan video pertandingan secara tepat waktu. Sementara perusahaan televisi masih mengandalkan rekaman tunda pertandingan, suatu hal yang sangat ketinggalan di era informasi.[87] Penurunan jumlah pemirsa membuat saluran televisi harus mengurangi iklan yang berarti kurangnya pemasukan bagi mereka.[88] Dengan biaya yang tinggi untuk menyiarkan pertandingan ditambah dengan tekanan dari internet dan meningkatnya kompetisi dari TV kabel membuat perusahaan televisi pemegang hak siar menuntut konsesi dari IOC untuk meningkatkan jumlah pemirsa.[89] IOC menanggapinya dengan membuat sejumlah perubahan pada acara pertandingan Olimpiade. Pada Olimpiade Musim Panas, kompetisi senam ditayangkan pada jam-jam primetime, yaitu pukul 6 hingga 9 malam dan gala Champions ditambahkan untuk menarik minat pemirsa televisi.[90] IOC juga memperpanjang durasi penayangan cabang-cabang olahraga populer seperti renang dan menyelam.[90] Hasilnya beragam: jumlah pemirsa pada Olimpiade Musim Dingin 2006 di Turin secara signifikan lebih rendah dibanding dengan jumlah pemirsa dalam Olimpiade Musim Dingin 2002 di Salt Lake City, sementara terjadi peningkatan tajam jumlah pemirsa pada Olimpiade Beijing 2008.[88][91]

Biaya

Biaya Olimpiade (Musim Panas dan Musim Dingin) telah diteliti oleh sarjana Oxford, Bent Flyvbjerg dan Allison Stewart.[92] Mereka menemukan bahwa selama 50 tahun terakhir, penyelenggaraan Olimpiade dengan biaya paling mahal adalah Olimpiade London 2012, yaitu $14.8 miliar, diikuti oleh Olimpiade Barcelona 1992 ($11.4 miliar), dan Olimpiade Montreal 1976 ($6 miliar).[93] Olimpiade Beijing 2008 diperkirakan akan lebih mahal, namun pemerintah RRC belum merilis data resmi mengenai biayanya. Biaya di sini hanya mencakup biaya yang berhubungan dengan olahraga, tidak termasuk biaya umum lainnya seperti konstruksi jalan, rel, infrastruktur bandara, atau biaya pribadi lainnya seperti akomodasi dan investasi bisnis yang terjadi dalam persiapan Olimpiade yang besarnya bervariasi, tergantung kondisi ekonomi kota tuan rumah dan sulit untuk membandingkannya secara konsisten.[93]

Flyvbjerg dan Stewart lebih lanjut menemukan bahwa cost overrun (pembengkakan biaya) merupakan masalah yang terus-menerus terjadi dalam penyelenggaraan Olimpiade:

  • Pembengkakan biaya dalam penyelenggaraan Olimpiade mencapai angka 100 %. Tidak ada mega proyek yang bisa diprediksi pembengkakan biayanya. Biasanya, mega proyek seperti konstruksi, infrastruktur, bendungan dan ICT biayanya dianggarkan secara bertahap dari waktu ke waktu, namun hal seperti ini tidak berlaku dalam penyelenggaraan Olimpiade.[93]
  • Dengan rata-rata pembengkakan biaya riil 179 % dan 324 % secara nominal, pembengkakan biaya dalam Olimpiade secara historis merupakan yang terbesar dibanding mega proyek lainnya di dunia.[93]
  • Pembengkakan biaya terbesar dalam sejarah Olimpiade terjadi dalam penyelenggaraan Olimpiade Montreal 1976 (796%), Barcelona 1992 (417%) dan Lake Placid 1980 (321%).[93]
  • Data menunjukkan bahwa kota dan negara yang memutuskan untuk menjadi tuan rumah Olimpiade harus siap menghadapi resiko finansial terburuk mereka. Sebagai contoh, pembengkakan biaya dalam Olimpiade 2004 menyebabkan Athena mengalami kebangkrutan dan harus berutang, secara substansial turut memperburuk kondisi keuangan negara dan menjadi salah satu penyebab krisis ekonomi Yunani 2008-2012. Sementara itu, Montreal membutuhkan waktu 30 tahun untuk melunasi utang akibat pembengkakan biaya yang terjadi dalam penyelenggaraan Olimpiade 1976.[93]

Pada akhirnya, Flyvbjerg dan Stewart menyimpulkan bahwa selama satu dekade terakhir, pembengkakan biaya dalam Olimpiade sudah mengalami penurunan. Untuk periode 2000-2010 rata-rata pembengkakan biaya adalah 47 %, padahal sebelum itu rata-ratanya mencapai 258 %. Namun, Olimpiade London 2012 telah mengembalikan tren ini dengan pembengkakan biaya yang dikeluarkannya yang menembus angka 101 persen; mengembalikannya ke angka tiga digit. Ke depannya, merupakan tantangan bagi para perencana dan pengelola Olimpiade untuk menurunkan kembali pembengkakan biaya tersebut.[93]

Simbol, motto dan maskot

Bendera Olimpiade.

Gerakan Olimpiade menggunakan simbol untuk mewakili cita-cita yang terkandung dalam Piagam Olimpiade. Simbol Olimpiade- yang lebih dikenal dengan nama cincin Olimpiade- terdiri dari lima buah cincin yang saling berkait dan merupakan kesatuan dari lima benua yang ada di bumi (Amerika, Afrika, Asia, Australasia dan Eropa). Versi berwarna dari simbol itu berupa cincin-cincin yang berwarna biru, kuning, hitam, hijau dan merah dengan latar berwarna putih yang membentuk bendera Olimpiade. Warna-warna ini dipilih karena setiap negara setidaknya memiliki satu dari warna-warna tersebut dalam bendera nasionalnya. Bendera ini diadopsi pada tahun 1914 tetapi baru dikibarkan pertama kali dalam Olimpiade Antwerpen 1920 di Belgia. Setelah itu, bendera ini selalu berkibar dalam perayaan Olimpiade setiap tahunnya.[94]

Moto Olimpiade adalah “Citius, Altius, Fortius”, yang merupakan ungkapan dalam bahasa Latin yang berarti “Faster, Higher, Stronger” (bahasa Inggris) atau “Lebih cepat, Lebih tinggi, Lebih kuat” (bahasa Indonesia). Kutipan Coubertin selanjutnya dinyatakan dalam kredo Olimpiade, yang berbunyi:

“Hal terpenting dalam Olimpiade bukanlah untuk menang, tetapi untuk berpartisipasi. Seperti juga hal yang paling penting dalam hidup bukanlah kemenangan, tetapi perjuangan. Hal terpenting bukannya karena telah berhasil mengalahkan, namun karena telah berjuang dengan baik.”[94]

Sebulan sebelum perayaan Olimpiade dimulai, api Olimpiade menyala di Olympia, Yunani dalam sebuah upacara ritual yang mencerminkan budaya Yunani kuno. Seorang pendeta wanita yang bertindak sebagai imam membakar obor dengan menempatkannya di dalam cermin parabola yang memfokuskan sinar matahari, ia kemudian menyalakan obor pembawa estafet pertama, yang akan memulai estafet obor Olimpiade ke berbagai kota di dunia dan berakhir di stadion di kota tuan rumah penyelenggara Olimpiade.[95] Meskipun api telah menjadi simbol Olimpiade sejak tahun 1928, estafet obor baru diperkenalkan dalam Olimpiade Berlin 1936 sebagai bagian dari upaya pemerintah Jerman saat itu untuk mempromosikan ideologi Sosialis Nasionalis-nya.[94]

Maskot Olimpiade biasanya berupa binatang atau sosok manusia yang mewakili warisan budaya negara tuan rumah dan mulai diperkenalkan pada tahun 1968. Pemilihan maskot ini berperan penting dalam mempromosikan identitas Olimpiade pada penyelenggaraan Olimpiade Moskwa 1980 di Rusia saat beruang Misha, maskot Olimpiade saat itu, mencapai ketenaran internasional.[96] Maskot dari Olimpiade Beijing 2008 adalah Fuwa, lima makhluk yang mewakili lima fengshui; unsur penting dalam kebudayaan Cina.[97] Sedangkan maskot untuk Olimpiade London 2012 bernama Wenlock dan Mandeville; dua karakter animasi yang menggambarkan dua tetes baja dari industri baja di Bolton.[98]

Perayaan

Pembukaan

Pertunjukan artistik dalam sesi upacara pembukaan Olimpiade Sydney 2000.

Sebagaimana yang diamanatkan oleh Piagam Olimpiade, berbagai elemen pertunjukan dilakukan dalam upacara pembukaan Olimpiade.[99][100] Tata cara penyelenggaraan upacara pembukaan Olimpiade ditetapkan dalam Olimpiade Antwerpen 1920 di Belgia.[101] Upacara pembukaan biasanya dimulai dengan pengibaran bendera dan pengumandangan lagu kebangsaan negara tuan rumah.[99][100] Negara tuan rumah kemudian menampilkan pertunjukan tari, musik, nyanyian dan teater yang memperlihatkan identitas lokal mereka.[101] Pertunjukan artistik ini telah menjadi ajang prestise sendiri bagi negara-negara tuan rumah Olimpiade untuk menyajikan pembukaan yang lebih meriah dan lebih memorable dari negara tuan rumah sebelumnya. Upacara pembukaan Olimpiade Beijing 2008 dilaporkan menelan biaya sebesar $100 juta, sebagian besar terpakai untuk sesi pertunjukan artistik.[102]

Setelah sesi pertunjukan artistik, para atlet berparade ke dalam stadion yang dikelompokkan menurut negaranya masing-masing. Yunani secara tradisional ditetapkan sebagai negara pertama yang berparade untuk menghormati asal-usul Olimpiade. Selanjutnya, masing-masing negara berparade sesuai dengan urutan abjad dan negara tuan rumah menjadi negara terakhir yang berparade. Pada Olimpiade Athena 2004, bendera Yunani di paradekan pertama kali memasuki stadion, sementara kontingen Yunani berparade paling terakhir. Kemudian, obor Olimpiade dibawa masuk ke dalam stadion dan diteruskan sampai mencapai tempat penyalaan obor -biasanya dibawa oleh atlet Olimpiade terkenal dari negara tuan rumah- untuk selanjutnya dinyalakan, yang menandai berakhirnya sesi upacara pembukaan Olimpiade.[99][100]

Penutupan

Parade atlet dalam upacara penutupan Olimpiade Moskwa 1980.

Upacara penutupan Olimpiade berlangsung setelah semua pertandingan olahraga selesai. Pembawa bendera dari masing-masing negara memasuki stadion, diikuti oleh keseluruhan kontingen secara bersama-sama tanpa adanya pengelompokkan berdasarkan negara. Tiga bendera nasional dikibarkan bersamaan dengan pengumandangan lagu kebangsaan negara tuan rumah: bendera Yunani; untuk menghormati tempat kelahiran Olimpiade, bendera negara tuan rumah saat ini, dan bendera negara tuan rumah penyelenggara Olimpiade berikutnya. [103] Ketua panitia penyelenggara dan Presiden IOC petahana berpidato untuk menyatakan Olimpiade secara resmi ditutup kemudian diikuti dengan pemadaman obor Olimpiade.[104] Dalam sesi upacara penutupan Olimpiade Antwerpen 1920, walikota tuan rumah menyerahkan bendera Olimpiade kepada presiden IOC kemudian diteruskan kepada walikota tuan rumah Olimpiade berikutnya.[105] Setelah upacara penutupan, negara tuan rumah secara singkat memperkenalkan dirinya dengan menampilkan seni tari dan teater yang mewakili budaya mereka.[103]

Penyerahan medali

Upacara penyerahan medali dalam Olimpiade Beijing 2008.

Upacara penyerahan medali diadakan setelah hasil dari masing-masing pertandingan diputuskan. Peringkat pertama, kedua dan ketiga dari masing-masing cabang olahraga berdiri di atas podium bertingkat tiga untuk selanjutnya dikalungkan medali.[106] Setelah medali dikalungkan oleh salah seorang anggota IOC, bendera nasional dari ketiga negara pemenang dikibarkan diiringi dengan pengumandangan lagu kebangsaan negara peraih medali emas.[107] Kesukarelaan warga negara tuan rumah juga diperlukan dalam prosesi penyerahan medali untuk membantu para pejabat yang mengalungkan medali dan mengibarkan bendera negara pemenang.[108] Dalam setiap perayaan Olimpiade, upacara penyerahan medali biasanya diadakan sehari setelah hasil pertandingan diputuskan. Untuk cabang olahraga maraton putra, pertandingan biasanya diadakan pada pagi hari terakhir pelaksanaan Olimpiade dan penyerahan medalinya diadakan pada malam upacara penutupan.[103]

Olahraga

Tarik tambang dalam Olimpiade St. Louis 1904. Cabang olahraga ini dieliminasi dari program Olimpiade tetapi tetap diakui oleh IOC.

Olimpiade terdiri dari 35 cabang olahraga, 30 disiplin dan hampir 400 pertandingan. Sebagai contoh, gulat adalah olahraga Olimpiade Musim Panas yang terdiri dari dua disiplin: Greco-Roman dan Freestyle. Masing-masing disiplin diperlombakan ke dalam empat belas pertandingan untuk pria dan empat pertandingan untuk wanita, masing-masing mewakili kelas berat yang berbeda.[109] Olimpiade Musim Panas mempertandingkan 26 cabang olahraga, sedangkan Olimpiade Musim Dingin hanya menawarkan 15 cabang olahraga untuk diperlombakan.[110] Atletik, renang, anggar dan senam artistik adalah cabang-cabang olahraga yang tidak pernah absen diperlombakan dalam Olimpiade Musim Panas. Sedangkan ski lintas alam, seluncur indah, hoki dan seluncur es merupakan cabang-cabang olahraga yang rutin diperlombakan dalam Olimpiade Musim Dingin. Bulu tangkis, bola basket dan bola voli pada awalnya dipertandingkan sebagai cabang olahraga demonstrasi, kemudian dipromosikan sebagai cabang olahraga Olimpiade tetap. Beberapa cabang olahraga seperti tarik tambang, polo dan golf pernah dipertandingkan dalam Olimpiade sebelumnya, namun tidak dilanjutkan pada Olimpiade baru-baru ini.[111]

Olahraga Olimpiade diatur oleh Federasi Olahraga Internasional (IF) yang dikelola oleh IOC. Saat ini terdapat 35 IF dalam Gerakan Olimpiade, mewakili masing-masing cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Olimpiade.[110] Ada cabang olahraga yang diakui oleh IOC tapi tidak termasuk dalam program Olimpiade seperti rugbi dan boling. Olahraga ini tidak di klasifikasikan sebagai olahraga Olimpiade, namun dapat di promosikan ke status ini.[112][113] Beberapa cabang olahraga yang sama sekali belum pernah dipromosikan sebagai olahraga Olimpiade antara lain catur dan selancar.[114]

Kongres IOC ke-112 pada tahun 2002 membatasi cabang olahraga dalam Olimpiade maksimal 28 cabang olahraga, 301 pertandingan dan 10.500 atlet.[115] Tiga tahun kemudian, dalam kongres IOC ke-117, revisi dilakukan, yang mengakibatkan tersingkirnya softbol dan bisbol dari daftar cabang olahraga dalam Olimpiade London 2012. Karena tidak ada kesepakatan untuk mempromosikan dua olahraga tersebut, Olimpiade London berlangsung dengan hanya mempertandingkan 26 cabang olahraga.[115] Pada pelaksanaan Olimpiade Rio de Janeiro 2016 nanti, Olimpiade akan kembali ke sistem maksimum 28 cabang olahraga dengan menambahkan rugbi dan golf ke dalam daftar.[116]

Kontroversi

Pemboikotan

Peta negara-negara yang memboikot Olimpiade Musim Panas 1976 (kuning), 1980 (biru) dan 1984 (merah).

Australia, Britania Raya dan Swiss adalah negara-negara yang tidak pernah absen mengirimkan delegasinya pada ajang Olimpiade sejak 1896. Sebagian besar negara melewatkan Olimpiade karena kurangnya atlet yang berkualitas, namun beberapa negara memilih untuk memboikot perayaan Olimpiade karena alasan tertentu. Pada Olimpiade London 1908, Irlandia memboikot negaranya sendiri, Britania Raya, setelah Britania Raya menolak memberikan kemerdekaan pada Irlandia.[117] Irlandia juga memboikot Olimpiade Berlin 1936 karena IOC membatasi tim yang boleh berpartisipasi hanya dari Negara Bebas Irlandia, bukannya dari Kepulauan Irlandia.[118] Ada tiga peristiwa pemboikotan dalam Olimpiade Melbourne 1956; Belanda dan Spanyol menolak berpartisipasi karena keterlibatan Uni Soviet dalam Revolusi Hongaria, Kamboja, Mesir, Irak dan Lebanon memboikot Olimpiade Melbourne karena Krisis Suez, sedangkan Cina (Republik Rakyat Cina) juga ikut-ikutan memboikot karena keikutsertaan Taiwan (Republik Cina) dalam Olimpiade.[117] Pada Olimpiade Tokyo 1964, Indonesia dan Korea Utara mencabut diri dari Olimpiade, setelah beberapa atlet mereka di diskualifikasi karena mengikuti Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang (GANEFO) di Jakarta. Pada waktu itu, GANEFO dianggap sebagai pertandingan saingan Olimpiade.[117]

Pada Olimpiade München 1972 dan Olimpiade Montreal 1976, sebagian besar negara Afrika mengancam untuk memboikot Olimpiade sebelum IOC melarang Afrika Selatan dan Rhodesia untuk berpartisipasi karena rezim Apartheid mereka. Selandia Baru juga salah satu alasan pemboikotan Afrika, sebab tim nasional rugbi mereka yang telah bertandang ke Afrika Selatan untuk bertanding juga diperbolehkan ikut Olimpiade. IOC mengakui kasus yang pertama, namun menolak melarang Selandia Baru dengan alasan bahwa rugbi bukanlah bagian dari olahraga Olimpiade.[119] Memenuhi ancaman mereka, dua puluh negara Afrika beserta Guyana dan Irak mengundurkan diri dari Olimpiade Montreal 1976 setelah beberapa atlet mereka berlaga dalam pertandingan.[119][120] Taiwan juga memutuskan untuk memboikot Olimpiade Montreal karena RRC mengintimidasi panitia untuk melarang Taiwan berkompetisi menggunakan nama, bendera dan lagu kebangsaan Republik Cina.[121] Taiwan tidak berpartisipasi lagi sampai Olimpiade Los Angeles 1984, dimana saat itu mereka berlaga di bawah nama Cina Taipei serta menggunakan bendera dan lagu kebangsaan yang baru.[122]

Pada tahun 1980 dan 1984, negara-negara penentang Perang Dingin memboikot Olimpiade di Moskwa dan Los Angeles. Enam puluh lima negara menolak untuk berpartisipasi dalam Olimpiade Moskwa 1980 karena invasi Soviet ke Afghanistan. Pemboikotan ini mengurangi jumlah negara yang berpartisipasi menjadi 81 negara, jumlah terendah sejak tahun 1956. Amerika Serikat juga mengancam akan memboikot Olimpiade di Moskwa jika pasukan Soviet tidak segera mundur dari Afghanistan, dan boikot tersebut akhirnya terjadi pada tanggal 21 Maret 1980[123] Empat tahun kemudian, Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur (kecuali Rumania) juga memboikot balik Olimpiade Los Angeles 1984, dengan alasan bahwa mereka tidak bisa menjamin keselamatan atlet mereka. Tanggal 8 Mei 1984, Uni Soviet mengeluarkan pernyataan pemboikotan yang berisi bahwa pemboikotan disebabkan oleh sentimen “anti-Soviet” yang muncul di AS pada saat itu.[124] Negara-negara Blok Timur yang memboikot Olimpiade Los Angeles kemudian menggelar pertandingan mereka sendiri yang bernama Pertandingan Persahabatan pada bulan Juli dan Agustus 1984.[125][126]

Beberapa ancaman pemboikotan juga terjadi dalam Olimpiade Beijing 2008 sebagai protes terhadap catatan Hak Asasi Manusia Cina mengenai kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah RRC terhadap etnis Tibet, meskipun pada akhirnya tidak satupun negara yang melakukan pemboikotan dalam Olimpiade Beijing 2008.[127][128] Pada bulan Agustus 2008, pemerintah Georgia menyatakan boikot terhadap Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014 di Rusia sebagai bentuk protes atas keterlibatan Rusia dalam Perang Ossetia Selatan tahun 2008.[129][130]

Politik

Tommie Smith dan John Carlos memberikan “salam kulit hitam” di podium pada Olimpiade Mexico City 1968.

Sejak awal, Olimpiade telah digunakan sebagai ajang untuk mempromosikan ideologi politik. Nazi memanfaatkan Olimpiade Berlin 1936 sebagai propaganda untuk menunjukkan pada dunia bahwa Partai Sosialis Nasionalis itu baik hati dan cinta damai, meskipun pada kenyataannya mereka memanfaatkan Olimpiade untuk menunjukkan superioritas bangsa Arya.[131] Jerman dengan superioritas bangsa Arya-nya memang menjadi negara yang paling sukses dalam Olimpiade Berlin 1936, namun patut dicatat, kemenangan paling gemilang pada saat itu justru diraih oleh seorang atlet keturunan Afrika-Amerika bernama Jesse Owens, yang meraih 4 medali emas dan Ibolya Csák; seorang atlet Yahudi asal Hongaria.[132] Uni Soviet tidak berpartisipasi sampai Olimpiade Helsinki 1952. Sebaliknya, sejak tahun tahun 1928, Soviet menyelenggarakan ajang olahraga internasional sendiri bernama Spartakiad. Selama masa-masa perang tahun 1920-an dan 1930-an, organisasi komunis dan sosialis di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, berusaha menentang apa yang mereka sebut sebagai “Olimpiade Borjuis” dengan menyelenggarakan ajang tandingan bernama Olimpiade Pekerja.[133][134] Dalam Olimpiade Melbourne 1956, Uni Soviet berjaya dan muncul sebagai negara adidaya baru dalam dunia olahraga. Uni Soviet memanfaatkan publisitas yang muncul karena memenangkan Olimpiade dengan menyebarkan ideologi politiknya.[135] Beberapa atlet secara individu juga telah memanfaatkan Olimpiade untuk mempromosikan agenda politik mereka. Dalam Olimpiade Mexico City 1968, dua orang atlet atletik Amerika Serikat, Tommie Smith dan John Carlos, yang memenangkan tempat pertama dan ketiga dalam lari 200 meter, mengangkat tangan dan memberikan hormat yang diartikan sebagai salam orang kulit hitam (black power salute) di atas podium kemenangan. Runner-up saat itu, Peter Norman dari Australia mengenakan lencana bertuliskan “Proyek Olimpiade untuk Hak Asasi Manusia” untuk menunjukkan dukungannya pada Smith dan Carlos. Atas hal ini, Presiden IOC saat itu, Avery Brundage mengeluarkan dan mencabut gelar juara mereka karena salam rasis dan berbau politik tidak diperbolehkan dalam Olimpiade. Namun insiden ini mempunyai pengaruh kuat ke media.[136]

Baru-baru ini, dikabarkan bahwa pemerintah Iran mengambil langkah untuk menghindari segala macam bentuk pertandingan dengan atlet asal Israel. Seorang atlet judo asal Iran, Arash Miresmaeli, menolak untuk bertanding dengan atlet Israel dalam Olimpiade Athena 2004. Walaupun kemudian ia di diskualifikasi karena kelebihan berat badan, Miresmaeli malah dianugerahi hadiah uang sebesar $125.000 oleh pemerintah Iran, jumlah yang dibayarkan kepada semua atlet peraih medali emas di Iran. Miresmaeli dibebaskan dari tuduhan sengaja menghindari pertandingan oleh panitia namun tetap saja penerimaan hadiah uang tersebut menimbulkan kecurigaan.[137]

Penggunaan obat-obatan PED

Pada awal abad ke-20, para atlet Olimpiade mulai menggunakan Obat-obatan Peningkat Kinerja (Performance Enhancing Drugs/PED) untuk meningkatkan kemampuan atletik mereka. Sebagai contoh, pemenang maraton dalam Olimpiade St. Louis 1904; Thomas Hicks diberikan strychnine dan brendi oleh pelatihnya.[138] Kematian yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan terjadi dalam Olimpiade Roma 1960. Saat pertandingan balap sepeda, atlet sepeda Denmark; Knud Enemark Jensen jatuh dari sepedanya dan meninggal. Otopsi menemukan bahwa saat bertanding ia berada di bawah pengaruh amfetamin.[139] Atas peristiwa ini, IOC melarang penggunaan PED dalam Olimpiade.[140]

Atlet Olimpiade pertama yang di tes positif menggunakan PED adalah Hans-Gunnar Liljenwall, seorang pelari Swedia dalam Olimpiade Mexico City 1968. Dia kehilangan medali perunggunya setelah terbukti positif menggunakan alkohol selama pertandingan.[141] Penggunaan PED dalam Olimpiade yang paling dipublikasikan adalah Ben Johnson, seorang pelari cepat Kanada yang memenangkan lari 100 meter dalam Olimpiade Seoul 1988, namun Johnson dinyatakan positif menggunakan stanozolol. Medali emasnya kemudian dicabut dan diberikan kepada runner-up; Carl Lewis.[142]

Pada tahun 1999, IOC mengambil inisiatif untuk berjuang dengan lebih terorganisir melawan penggunaan PED dengan membentuk World Anti-Doping Agency (WADA). Ada peningkatan tajam jumlah atlet yang positif menggunakan PED dalam tes yang dilakukan pada Olimpiade Sydney 2000 dan Olimpiade Musim Dingin Salt Lake City 2002. Beberapa peraih medali dalam cabang angkat besi dan ski lintas alam di diskualifikasi karena menggunakan PED. Dalam Olimpiade Musim Dingin Turin 2006, hanya satu atlet yang terbukti positif menggunakan PED. IOC membentuk rejimen pengujian obat-obatan (sekarang dikenal dengan Standar Olimpiade) yang menetapkan kadar obat-obatan yang diizinkan bagi para atlet.[143] Dalam Olimpiade Beijing 2008, sekitar 3.667 atlet di uji oleh IOC di bawah naungan WADA. Pengujian ini meliputi tes urin dan tes darah. Hasil pengujian menunjukkan bahwa hanya tiga atlet yang terbukti menggunakan PED.[139][144]

Diskriminasi gender

Atlet wanita pertama kalinya diijinkan untuk ikut serta dalam Olimpiade Paris 1900, namun dalam Olimpiade Barcelona 1992, sekitar tiga puluh lima negara masih mengirimkan semua kontingen pria ke Olimpiade.[145] Jumlah ini turun pesat selama tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1996, Lita Fariman adalah atlet wanita pertama yang mewakili Iran dalam Olimpiade lewat cabang olahraga menembak.[146] Dalam Olimpiade Sidney 2000, Bahrain mengirimkan dua atlet wanita untuk pertama kalinya ke ajang Olimpiade: Fatema Hameed Gerashi dan Mariam Mohamed Hadi Al Hilli.[147] Tahun 2004, Robina Muqim Yaar dan Friba Razayee mencatatkan diri sebagai atlet wanita pertama yang berlaga mewakili Afghanistan dalam ajang Olimpiade.[148] Empat tahun berikutnya, Uni Emirat Arab juga mengirim atlet wanita ke Olimpiade Beijing untuk pertama kalinya: Maitha Al Maktoum (taekwondo) dan Latifa Al Maktoum (berkuda).[149]

Hingga tahun 2010, tercatat tiga negara yang sama sekali belum pernah mengirimkan atlet wanita ke ajang Olimpiade. Negara-negara tersebut adalah: Brunei, Arab Saudi dan Qatar. Brunei cuma pernah berpartisipasi dalam tiga perayaan Olimpiade, itupun dengan jumlah atlet yang sangat sedikit. Arab Saudi dan Qatar telah berpartisipasi dalam banyak ajang dan tetap konsisten mengirim kontingen pria ke Olimpiade. Tahun 2010, Komite Olimpiade Internasional menyatakan akan “menekan” negara-negara tersebut untuk memperbolehkan dan memfasilitasi keikutsertaan atlet-atlet wanita dalam Olimpiade London 2012. Anita DeFrantz, ketua Komisi Perempuan IOC menyarankan agar negara-negara yang mencegah keikutsertaan atlet-atlet wanita supaya dilarang untuk mengikuti Olimpiade. Tak lama kemudian, Komite Olimpiade Qatar mengumumkan bahwa mereka akan mengirim empat atlet wanita dari cabang menembak dan anggar pada Olimpiade London 2012. Di Arab Saudi, hukum nasional di negara tersebut secara eksplisit memang melarang wanita untuk berlaga dalam Olimpiade.[150][151]

Pada bulan Juni 2012, secara mengejutkan Kedutaan Arab Saudi di London mengumumkan akan mengirimkan atlet wanita untuk berkompetisi dalam ajang Olimpiade 2012 untuk pertama kalinya. Brunei juga mengumumkan kalau mereka akan mengirimkan atlet wanitanya ke ajang Olimpiade yang mulai berlangsung pada tanggal 27 Juli 2012 di London, Inggris.[152]

Cabang olahraga pada Olimpiade yang menampilkan pria dan wanita berlaga secara bersamaan adalah berkuda. Tidak ada istilah “olahraga wanita” atau “olahraga pria” dalam Olimpiade. Meskipun demikian, pada tahun 2008 cabang olahraga yang diperlombakan untuk atlet pria masih lebih banyak dibanding atlet wanita. Dengan penambahan cabang tinju wanita dalam Olimpiade London 2012, diharapkan para atlet wanita akan dapat bersaing di semua cabang olahraga yang sama dengan para atlet pria.[153]

Kekerasan

Monumen peringatan Peristiwa München.

Tiga ajang Olimpiade tidak dirayakan karena peperangan: tahun 1916, Olimpiade dibatalkan karena Perang Dunia I, sedangkan Olimpiade Musim Panas dan Musim Dingin tahun 1940 dan 1944 tidak dirayakan karena Perang Dunia II. Perang Ossetia Selatan antara Rusia dan Georgia meletus pada hari pertama pembukaan Olimpiade Beijing 2008. Presiden Amerika Serikat , George W. Bush dan Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin sama-sama menghadiri pembukaan Olimpiade saat itu dan saling mengobrol tentang konflik tersebut pada acara jamuan makan malam yang diadakan oleh Presiden RRC, Hu Jintao.[154] Saat Nino Salukvadze dari Georgia memenangkan medali perunggu dari cabang menembak, dia berdiri di podium kemenangan berdampingan dengan Natalia Paderina, atlet menembak dari Rusia yang meraih medali perak. Dari apa yang dipublikasikan oleh media, dikabarkan kalau Salukvadze dan Paderina saling memeluk di podium setelah upacara penyerahan medali berakhir.[155]

Terorisme juga pernah menghantui penyelenggaraan Olimpiade. Dalam Olimpiade München 1972 di Jerman, perayaan Olimpiade berubah menjadi bencana ketika sekelompok teroris dari Palestinian Black September berhasil memasuki kamp atlet Israel lalu menyandera dan membunuh 11 atlet Israel beserta seorang polisi Jerman. Tragedi tersebut dikenal sebagai Peristiwa München. Atas peristiwa ini, penyelenggaraan Olimpiade saat itu dijeda untuk memberi penghormatan pada para korban dan kemudian dilanjutkan kembali.[156] Dalam Olimpiade Atlanta 1996 di Amerika Serikat, sebuah bom diledakkan di Centennial Olympic Park, menewaskan 2 orang dan melukai 111 lainnya. Pengeboman tersebut di gembongi oleh Eric Robert Rudolph, seorang teroris domestik Amerika yang kemudian dijatuhi hukuman seumur hidup atas perbuatannya.[157] Tingkat pengamanan dalam perayaan Olimpiade juga semakin diperketat setelah terjadinya serangan 11 September 2001.[158]

Pemenang dan medali

Atlet atau tim yang berhasil menempati posisi pertama, kedua dan ketiga dalam Olimpiade masing-masing dianugerahi sebuah medali. Pemenang pertama dianugerahi medali emas, yang betul-betul terbuat dari emas murni sampai Olimpiade Stockholm 1912, setelah itu terbuat dari perak berlapis emas sampai sekarang. Setiap medali emas harus mengandung setidaknya enam gram emas murni.[159] Runner-up atau juara kedua dianugerahi medali perak dan juara ketiga mendapatkan medali perunggu. Dalam cabang olahraga yang memakai sistem gugur (terutama tinju), tempat ketiga biasanya tidak ditentukan dan kedua semifinalis akan mendapatkan medali perunggu. Dalam Olimpiade Athena 1896, hanya medali perak dan perunggu yang diberikan. Format tiga medali ini baru diperkenalkan dalam Olimpiade St. Louis 1904.[160] Sejak Olimpiade London 1948, urutan keempat, kelima, dan keenam diberi sertifikat, yang selanjutnya dikenal sebagai diploma kemenangan. Kemudian, dalam Olimpiade Los Angeles 1984, urutan ketujuh dan kedelapan juga diberi diploma kemenangan. Dalam Olimpiade Athena 2004, penerima medali emas, perak dan perunggu juga dikalungkan bunga zaitun.[161]

Berikut ini merupakan atlet-atlet peraih medali terbanyak berdasarkan perolehan medali emas sepanjang sejarah penyelenggaraan Olimpiade:

Atlet Cabang olahraga Periode
Medali emas
Medali perak
Medali perunggu
Total
Bendera Amerika Serikat Michael Phelps Renang 2004–2008 14 2 16
Bendera Uni Soviet Larissa Latynina Senam artistik 1956–1964 9 5 4 18
Bendera Finlandia Paavo Nurmi Atletik 1920–1928 9 3 12
Bendera Amerika Serikat Mark Spitz Renang 1968–1972 9 1 1 11
Bendera Amerika Serikat Carl Lewis Atletik 1984–1996 9 1 10
Bendera Norwegia Bjørn Dæhlie Ski lintas alam 1992–1998 8 4 12
Bendera Jerman Birgit Fischer Dayung 1980–2004 8 4 12
Bendera Jepang Sawao Kato Senam artistik 1968–1976 8 3 1 12
Bendera Amerika Serikat Jenny Thompson Renang 1992–2004 8 3 1 12
Bendera Amerika Serikat Matt Biondi Renang 1984–1992 8 2 1 11
Sumber: Situs resmi Olimpiade[162]

Mengenai perolehan medali, IOC memang tidak mengakui urutan global berdasarkan negara, tabulasi medali ditampilkan sekedar untuk informasi saja. Lebih lanjut, hasil-hasil yang ditampilkan merupakan hasil resmi dan diambil dari “Laporan Resmi” – sebuah dokumen yang diterbitkan untuk setiap Olimpiade oleh Komite Organisasi. Namun untuk Olimpiade-Olimpiade mula-mula hingga Olimpiade Antwerpen 1920, terdapat kesulitan dalam menghitung jumlah medali per negara, karena banyak tim yang mengikutsertakan atlet dari negara-negara lainnya. Tabulasi medali berdasarkan negara ini bersumber dari jumlah medali emas yang diperoleh, dengan medali emas mendapat prioritas lebih tinggi dari perak dan perunggu. Kemenangan beregu dianggap sebagai satu medali saja.[163] Dengan mengacu kepada data yang dirilis oleh Komite Olimpiade Internasional, berikut ini adalah sepuluh negara dengan perolehan medali terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraan Olimpiade, baik Musim Panas maupun Musim Dingin:

Peringkat Negara Jumlah Olimpiade
yang diikuti
Medali emas
Medali perak
Medali perunggu
Total Sumber
1  Amerika Serikat 46 1016 824 709 2549 [164]
2  Uni Soviet 18 473 376 355 1204 [165]
3  Jerman 41 336 377 386 1099 [166]
4  Britania Raya 47 216 258 263 737 [167]
5  Perancis 47 218 239 273 730 [168]
6  Italia 46 228 189 211 628 [169]
7  Swedia 46 190 193 221 604 [170]
8  Jerman Timur 11 192 165 162 519 [171]
9  Hongaria 45 159 143 163 465 [172]
10  Finlandia 44 142 142 171 455 [173]
48  Indonesia 13 6 9 10 25 [2]
     Bekas negara

Kota dan negara tuan rumah

Peta lokasi Olimpiade Musim Panas. Negara-negara yang telah menjadi tuan rumah Olimpiade sebanyak satu kali ditandai dengan warna hijau, lebih dari sekali ditandai dengan warna biru.

Peta lokasi Olimpiade Musim Dingin. Negara-negara yang telah menjadi tuan rumah Olimpiade sebanyak satu kali ditandai dengan warna hijau, lebih dari sekali ditandai dengan warna biru.

Kota tuan rumah untuk Olimpiade biasanya dipilih tujuh tahun menjelang perayaan Olimpiade.[174] Proses seleksi dilakukan dalam dua tahap yang memakan waktu dua tahun. Calon kota tuan rumah mengajukan proposal ke NOC di negaranya. Jika terdapat lebih dari satu kota dari negara yang sama mengajukan proposal ke NOC nya, maka NOC di negara tersebut biasanya menggunakan seleksi internal, karena hanya satu kota per NOC yang dapat diajukan ke IOC sebagai nominasi kota tuan rumah. Setelah batas waktu pengajuan proposal kepada NOC tercapai, tahap pertama (aplikasi) dimulai dengan kota-kota pemohon diminta untuk mengisi kuesioner tentang kriteria utama yang terkait dengan penyelenggaraan Olimpiade.[175] Dalam tahap ini, kota pemohon harus memberikan jaminan bahwa mereka akan mematuhi Piagam Olimpiade dan peraturan lainnya yang ditetapkan oleh IOC.[174] Kuesioner yang telah diisi oleh kota pemohon di evaluasi oleh kelompok khusus yang ditugaskan oleh IOC. Dari hasil evaluasi ini, Dewan Eksekutif IOC memilih kota kandidat yang akan dilanjutkan ke tahap pencalonan.[175]

Setelah kota-kota kandidat tuan rumah Olimpiade terpilih, mereka akan di analisis oleh Komisi Evaluasi. Komisi ini akan mengunjungi kota-kota kandidat, mewawancarai pejabat setempat dan memeriksa tempat-tempat yang prospektif. Selama proses wawancara, kota kandidat juga harus menjamin bahwa mereka sanggup untuk mendanai Olimpiade. Berikutnya, Komisi Evaluasi melaporkan hasil analisanya pada IOC sebulan sebelum keputusan akhir diputuskan.[174] Setelah tugas Komisi Evaluasi selesai, daftar calon dipresentasikan dalam sidang umum IOC. Sidang umum ini diselenggarakan di suatu negara yang tidak memiliki kota kandidat dalam pencalonan. Para anggota IOC memberikan masing-masing satu suara untuk memilih kota tuan rumah Olimpiade. Setelah terpilih, kota tuan rumah beserta NOC nya akan menandatangani kontrak dengan IOC dan secara resmi dinobatkan sebagai kota tuan rumah penyelenggara Olimpiade.[174]

Hingga tahun 2016, Olimpiade telah diselenggarakan oleh 44 kota di 23 negara, namun sebagian besarnya adalah kota-kota di Eropa dan Amerika Utara. Kota-kota di luar itu yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade terhitung hanya delapan kota. Sejak Olimpiade Seoul 1988 di Korea Selatan, Olimpiade telah diselenggarakan di Asia dan Oseania sebanyak empat kali, meningkat tajam dibandingkan dengan 92 tahun sebelumnya (cuma dua kota). Rio de Janeiro menjadi kota pertama di Amerika Selatan yang menjadi kota penyelenggara Olimpiade (2016). Sedangkan kota-kota di Afrika tidak ada yang berhasil lolos ke tahap pencalonan.[175]

Amerika Serikat telah menyelenggarakan empat Olimpiade Musim Panas dan empat Olimpiade Musim Dingin, paling banyak dibanding negara lain. Britania Raya telah menjadi tuan rumah dua Olimpiade Musim Panas, dan akan menjadi tuan rumah yang ketiga kalinya pada Olimpiade London 2012. Jerman, Australia, Perancis dan Yunani adalah negara-negara yang telah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas sebanyak dua kali. Di antara kota-kota tuan rumah, hanya Los Angeles, Paris, Athena dan London yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas lebih dari sekali (masing-masing dua kali). Dengan diselenggarakannya Olimpiade Musim Panas 2012 di London, kota ini akan memegang rekor baru sebagai satu-satunya kota yang telah menyelenggarakan Olimpiade Musim Panas sebanyak tiga kali.

Mengenai Olimpiade Musim Dingin, Perancis telah menjadi tuan rumah untuk tiga Olimpiade, sementara Swiss, Austria, Norwegia, Jepang dan Italia telah menyelenggarakan dua kali Olimpiade. Olimpiade Musim Dingin terakhir diadakan di Vancouver, Kanada, menjadi Olimpiade Musim Dingin kedua dan ketiga secara keseluruhan yang diselenggarakan di Kanada. Olimpiade Musim Dingin berikutnya akan diselenggarakan untuk pertama kalinya di Rusia pada tahun 2014.

Olympic flag.svg
Olimpiade Musim Panas Olimpiade Musim Dingin
Logo Tahun Perayaan Tuan rumah Logo Tahun Perayaan Tuan rumah
Kota Negara Kota Negara
Athens 1896 report cover.jpg 1896 Ke-I Athena Kingdom of Greece Flag.svg
Yunani
Poster van zomerspelen 1900.jpg 1900 Ke-II Paris Flag of France.svg
Perancis
1904summerolympicsposter.jpg 1904 Ke-III St. Louis US flag 45 stars.svg
Amerika Serikat
1906 olympics.jpg 1906 Olimpiade Selingan
(Tidak resmi)
Athena Kingdom of Greece Flag.svg
Yunani
Olimpiad medal 1908.jpg 1908 Ke-IV London Flag of the United Kingdom.svg
Britania Raya
1912 Baseball Olympics.PNG 1912 Ke-V Stockholm Flag of Sweden.svg
Swedia
Olimpiade ke-VI dibatalkan karena Perang Dunia I
- 1916 Ke-VI Berlin Flag of the German Empire.svg
Kekaisaran Jerman
1920 olympics poster.jpg 1920 Ke-VII Antwerpen Flag of Belgium.svg
Belgia
Awal penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin
1924 Olympics 1000.jpg 1924 Ke-VIII Paris Flag of France.svg
Perancis
1924WOlympicPoster.jpg 1924 Ke-I Chamonix Flag of France.svg
Perancis
Olympic logo 1928 2.png 1928 Ke-IX Amsterdam Flag of the Netherlands.svg
Belanda
1928 Winter Olympics (logo).jpg 1928 Ke-II St. Moritz Flag of Switzerland (Pantone).svg
Swiss
Los Angeles1932 logo.gif 1932 Ke-X Los Angeles US flag 48 stars.svg
Amerika Serikat
Olympic Bobsled Run Lake Placid2.jpg 1932 Ke-III Lake Placid US flag 48 stars.svg
Amerika Serikat
Olympic logo 1936.jpg 1936 Ke-XI Berlin Flag of the NSDAP (1920–1945).svg
Jerman Nazi
Tokyo 1940 Summer.jpg 1936 Ke-IV Garmisch-Partenkirchen Flag of the NSDAP (1920–1945).svg
Jerman Nazi
Olimpiade Musim Panas dan Musim Dingin tahun 1940 dan 1944 dibatalkan karena Perang Dunia II
- 1940 Ke-XII Tokyo Flag of Japan (bordered).svg
Jepang
- 1940 Sapporo Flag of Japan (bordered).svg
Jepang
- 1944 Ke-XIII London Flag of the United Kingdom.svg
Britania Raya
- 1944 Cortina d’Ampezzo Flag of Italy (1861-1946).svg
Italia
Olympic logo 1948.gif 1948 Ke-XIV London Flag of the United Kingdom.svg
Britania Raya
1948 Ke-V St. Moritz Flag of Switzerland (Pantone).svg
Swiss
Olympia-1952.jpg 1952 Ke-XV Helsinki Flag of Finland (bordered).svg
Finlandia
1952 Ke-VI Oslo Flag of Norway.svg
Norwegia
Olympic logo 1956.gif 1956 Ke-XVI Melbourne Flag of Australia.svg
Australia
1956 Ke-VII Cortina d’Ampezzo Flag of Italy.svg
Italia
Olympic logo 1960.gif 1960 Ke-XVII Roma Flag of Italy.svg
Italia
1960 Ke-VIII Squaw Valley US flag 49 stars.svg
Amerika Serikat
1964 solympics logo.gif 1964 Ke-XVIII Tokyo Flag of Japan (bordered).svg
Jepang
1964 Ke-IX Innsbruck Flag of Austria.svg
Austria
1968 Mexico emblem.svg 1968 Ke-XIX Mexico City Flag of Mexico.svg
Mexico
1968 Ke-X Grenoble Flag of France.svg
Perancis
Munchen 1972.jpg 1972 Ke-XX München Flag of Germany.svg
Jerman Barat
1972 Sapporo Winter Olympics logo.png 1972 Ke-XI Sapporo Flag of Japan (bordered).svg
Jepang
1976summerolympicslogo.png 1976 Ke-XXI Montreal Flag of Canada.svg
Kanada
1976 Ke-XII Innsbruck Flag of Austria.svg
Austria
1980S emblem b.png 1980 Ke-XXII Moskow Flag of the Soviet Union (1955-1980).svg
Uni Soviet
- 1980 Ke-XIII Lake Placid Flag of the United States.svg
Amerika Serikat
84summerolympicslogo.gif 1984 Ke-XXIII Los Angeles Flag of the United States.svg
Amerika Serikat
1984 Ke-XIV Sarajevo Flag of SFR Yugoslavia.svg
Yugoslavia
1988summerolympicslogo.jpg 1988 Ke-XXIV Seoul Flag of South Korea (bordered).svg
Korea Selatan
1988 wolympics logo.png 1988 Ke-XV Calgary Flag of Canada.svg
Kanada
1992summerolympicslogo.jpg 1992 Ke-XXV Barcelona Flag of Spain.svg
Spanyol
1992 wolympics logo.svg 1992 Ke-XVI Albertville Flag of France.svg
Perancis
Olimpiade Musim Dingin ke-XVII dan seterusnya diselenggarakan dua tahun berselang dari Olimpiade Musim Panas
1996summerolympicslogo.jpg 1996 Ke-XXVI Atlanta Flag of the United States.svg
Amerika Serikat
1994 Winter Olympics logo.svg 1994 Ke-XVII Lillehammer Flag of Norway.svg
Norwegia
2000summerolympicslogo.jpg 2000 Ke-XXVII Sydney Flag of Australia.svg
Australia
1998 Winter Olympics logo.svg 1998 Ke-XVIII Nagano Flag of Japan (bordered).svg
Jepang
Athens 2004 logo.jpg 2004 Ke-XXVIII Athena Flag of Greece.svg
Yunani
2002 Winter Olympics logo.svg 2002 Ke-XIX Salt Lake City Flag of the United States.svg
Amerika Serikat
Beijing 2008 logo.gif 2008 Ke-XXIX Beijing Flag of the People's Republic of China.svg
RRC
Torino 2006.png 2006 Ke-XX Turin Flag of Italy.svg
Italia
London Olympics 2012 logo.png 2012 Ke-XXX London Flag of the United Kingdom.svg
Britania Raya
Vancouver 2010.png 2010 Ke-XXI Vancouver Flag of Canada.svg
Kanada
Olympia 2016 - Rio.svg 2016 Ke-XXXI Rio de Janeiro Flag of Brazil.svg
Brazil
Sochi 2014 - Logo.svg.png 2014 Ke-XXII Sochi Flag of Russia.svg
Rusia
2020 Ke-XXXII TBA TBA PyeongChang 2018 Candidate City.png 2018 Ke-XXIII Pyeongchang Flag of South Korea (bordered).svg
Korea Selatan

Sumber: Encyclopædia Britannica.[176]

Partisipasi Indonesia

Kontingen Olimpiade Indonesia dalam Olimpiade Melbourne 1956.
Indonesia pertama kali berpartisipasi dalam Olimpiade Helsinki 1952 di Finlandia. Setelah itu Indonesia sempat dua kali tidak ikut Olimpiade yaitu pada Olimpiade Tokyo 1964 dan Olimpiade Moskwa 1980 karena boikot sehubungan dengan perang Soviet-Afganistan. Sejak awal keikutsertaannya, tercatat Indonesia sudah mengumpulkan total 25 medali, dengan rincian: 6 medali emas, 9 medali perak dan 10 medali perunggu.[2] Berikut pencapaian Indonesia selama mengikuti Olimpiade:
  • Olimpiade Seoul 1988: Atlet Indonesia meraih medali untuk pertama kalinya, yaitu ketika Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani meraih medali perak dalam cabang panahan beregu putri.[2]
  • Olimpiade Barcelona 1992: Medali emas pertama Indonesia diraih oleh Susi Susanti (bulu tangkis tunggal putri) dan Alan Budikusuma (bulu tangkis tunggal putra). Sedangkan medali perak diraih oleh Ardi B. Wiranata (bulu tangkis tunggal putra) dan Eddy Hartono-Rudy Gunawan (bulu tangkis ganda putra), disusul oleh Hermawan Susanto (bulu tangkis tunggal putra) yang meraih medali perunggu.[2]
  • Olimpiade Atlanta 1996: Indonesia meraih 1 emas, 1 perak dan 2 perunggu. Semua medali untuk kontingen Indonesia dipersembahkan oleh tim bulu tangkis, dengan rincian medali emas diraih oleh: Rexy Mainaky-Ricky Subagja (ganda putra), medali perak: Mia Audina (tunggal puteri); medali perunggu: Susi Susanti (tunggal putri) dan Denny Kantono-Antonius B. Ariantho (ganda putra).[2]
  • Olimpiade Sydney 2000: Indonesia meraih 1 emas, 3 perak dan 2 perunggu. Emas diraih oleh: Tony Gunawan-Chandra Wijaya (bulu tangkis ganda putra), medali perak diraih oleh: Hendrawan (bulu tangkis tunggal putra), Tri Kusharjanto-Minarti Timur (Bulu tangkis ganda campuran) dan Raema Lisa Rumbewas (angkat berat putri 48 kg). Sedangkan medali perunggu diraih oleh: Sri Indriyani (angkat berat putri 48 kg) dan Winarni (angkat berat putri 53 kg).[2]
  • Olimpiade Athena 2004: Indonesia meraih 1 emas dan 2 perunggu. Emas: Taufik Hidayat (bulu tangkis tunggal putra), perunggu: Soni Dwi Kuncoro (bulu tangkis tunggal putra) dan Flandy Limpele-Eng Hian (bulu tangkis ganda putra).[2]
  • Olimpiade Beijing 2008: Indonesia mendapatkan emas pertama melalui cabang bulu tangkis lewat pasangan ganda putra Markis Kido-Hendra Setiawan. Sedangkan medali perak diraih oleh Nova Widianto-Lilyana Natsir (bulu tangkis ganda campuran), sementara itu medali perunggu diraih oleh Maria Kristin Yulianti (bulu tangkis tunggal putri), Eko Yuli Irawan (angkat besi 288 kg) dan Triyatno (angkat besi 298 kg).[2]

Pada Olimpiade London 2012, Indonesia mengirimkan 21 atlet, dengan rincian sembilan atlet berasal dari cabang bulu tangkis, kemudian diikuti oleh cabang angkat besi sebanyak enam atlet. Sementara cabang atletik meloloskan dua atlet, sedangkan anggar, panahan, dan menembak masing-masing meloloskan satu atlet. Jumlah atlet kali ini lebih sedikit dibanding kontingen yang dikirim pada Olimpiade Beijing 2008. Dimana pada saat itu, Indonesia mengirimkan 24 orang atlet. [177][178]

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Olimpiade

About rengkodriders

Sebaik-baik Manusia adalah Manusia yang bermanfaat bagi Orang Lain

Diskusi

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Full…

Blog Stats

  • 986,739 hits

Map

free counters

Now Online

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.