Manajemen Qolbu

Menjaga Amanah Waktu (1)

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad waala aalihi washaabihii ajmai’iin, Saudaraku yang budiman, setiap orang pasti akan menjaga sesuatu yang dianggapnya berharga.

Ada orang yang menganggap bahwa hartalah yang paling berharga, maka ia akan berusaha menjaga, menyimpannya di tempat yang terpelihara. Ada yang menganggap anak sebagai sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, maka ia akan berusaha melidungi dan menjaga itu dengan usaha yang habis-habisan. Begitulah seterusnya: harta, perhiasan, anak, pangkat, jabatan, penghormatan, dan segala sesuatu yang dianggap berharga, akan berusaha dijaga dan dipelihara.

Sebagain besar manusia menganggap bahwa yang paling berharga hanyalah yang berkaitan dengan perkara dunia. Namun sayang, tidak setiap orang mengetahui apa yang sesungguhnya paling berharga di dunia ini. Sebagai orang Islam kita mesti mengetahui bahwa yang paling berhaga di dunia ini adalah iman. Maka, perawatan dan pemeliharaan mutu iman, semestinya kita utamakan, sebelum kita menjaga dan merawat yang lainnya. Karena, punya apa-apa di dunia ini tidak akan pernah memiliki nilai apa-apa jika tidak diiringi dengan keimanan yang tinggi.

Setelah iman, yang paling berharag bagi kita adalah waktu. Kita jarang sekali merasakan bahwa sesungguhnya waktu adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga kita kadang-kadang membiarkannya berhamburan sia-sia. Tanpa merasa dosa kita mengisinya dengan bersantai-santai, berbicara sia-sia, dan lain-lain yang serba sia-sia. Kita sering membiarkan begitu saja. Padahal, semestinya kita mengerti bahwa modal kita yang sebenarnya setelah iman adalah waktu.

Inilah sesungguhnya yang menyebabkan umat Islam tidak bisa tampil unggul. Inilah yang menyebabkan kita tidak sesukses orang lain yang mengerti tentang rahasia waktu. Allah berfirman dalam Alquran (yang artinya), “Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati suapaya mentaati kebenaran kebenaran dan menetapi kesabaran.” (QS. Allah Ashr (103):1-3)

Wal ‘ashri, ‘demi waktu’; innal insaana lafiil khushrin, ‘sesungguhnya setiap manusia itu tambah hari tambah merugi, tambah tua tambah merugi; illalladziina aamanuu wa amilushshaalihaati, kecuali orang yang efektif, yang menjadikan pertambahan waktunya sebagai peningkatan mutu iman, mutu amal; wa tawaa shaobil haqqi wa tawaa shaobishshobri, dan setiap waktu terus meningkatkan kemampuan dirinya, sehingga kehadiran dirinya di dunia ini menjadi jalan nasehat baik dengan tutur kata atau prilaku bagi orang lain, dalam kebenaran dan kesabaran’. Setiap waktunya diolah agar dia makin hari makin rindu akan nasehat. Inilah sesungguhnya orang yang beruntung.

Sebaliknya, orang yang tidak mengunakan waktunya dalam empat perkara itu – iman, amal shaleh, nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran – menurut Allah Azza wa Jalla yang menciptakan hidup ini, orang itu akan merugi walaupun ia berumur panjang. Wallahu’alam.


Sumber : Manajemen qolbu.com (Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar)

Iklan

About rengkodriders

Sebaik-baik Manusia adalah Manusia yang bermanfaat bagi Orang Lain

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Full…

Blog Stats

  • 2,136,422 hits

Map

free counters

Now Online