Manajemen Qolbu

Menjaga Amanah Waktu (2)

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati suapaya mentaati kebenaran kebenaran dan menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr (103):1-3)

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad waala aalihi washaabihii ajmai’iin.

Saudaraku yang budiman, sudah sering kita bahas bahwa untuk menjadi manusia unggul, yang pertama kita harus lakukan adalah percepatan, yaitu bagaimana kita mengisi waktu kita agar lebih baik daripada yang dilakukan orang lain. Waktu kita sama, sehari hanya 24 jam. Tapi mengapa ada orang yang dengan waktu 24 jamnya itu melesat prestasi dan karyanya, dia bisa bermanfaat bagi umat manusia, mengurus ribuan, bahkan jutaan orang sedangkan yang lain ada yang untuk mengurus dirinya sendiri saja tidak bisa?

Orang-orang non Islam dengan orang-orang Islam sama jatah waktunya 24 jam sehari. Dunianya sama seperti dunia yang kita tempati, dunia yang satu ini juga. Tapi mengapa kita, yang orang Islam ini, jauh ketinggalan? Diantara penyebabnya adalah karena kita belum mengerti betapa dahsyatnya kekuatan waktu! Kita belum mengerti betapa berharga dan pentingnya waktu!

Sahabat-sahabat sekalian! Islam mengajarkan agar pemeluknya menggunakan waktu ini untuk empat perkara, seperti yang dikemukakan di atas. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Maka, jangan biarkan ia berlalu, kecuali kita isi dengan sesuatu yang berharga pula. Piring yang bagus, yang mahal jangan diisi dengan sampah. Sampah hanya layak disimpan di tong sampah. Begitupun dengan waktu yang sangat mahal harganya. Kelakuan, pikiran, sikap, tutur kata, dan apa pun yang kita lakukan, semuanya pasti memakan waktu. Maka, kita tidak boleh melakukannya kecuali bila dipandang berharga dan bermanfaat. Kalau dalam setiap perpindahan waktu kita mampu melakukan sesuatu yang terbaik, maka tidak usah heran kalau hidup kita senantiasa membawa manfaat terbaik pula.

Yang menjadi masalah bukan terletak pada waktunya, tetapi bagaimana kita bisa mengisinya dengan cara sebaik-baiknya. Waktu yang telah berlalu tidak mungkin bisa terulang kembali. Shalat Maghrib yang kita lakukan pada suatu hari, misalnya, itu terjadi hanya satu kali, dan tidak pernah terulang kembali dalam sepanjang hayat kita. Kalau melakukan dengan senaknya saja, tidak bermutu, maka kita sudah kehilangan sebuah shalat maghrib. Kita duduk-duduk bersama di dalam masjid, menunggu seorang penceramah tiba. Di antara kita ada yang sibuk membaca Al-Qur’an, ada yang sibuk berdzikir, tetapi mungkin ada juga yang sibuk melamun. Jelas, waktunya sama, tapi hasilnya berbeda. Semua tergantung pada bagaimana kemampuan kita dalam memanfaatkannya. Wallahu’alam.

Iklan

About rengkodriders

Sebaik-baik Manusia adalah Manusia yang bermanfaat bagi Orang Lain

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Full…

Blog Stats

  • 2,187,514 hits

Map

free counters

Now Online